13 Nov 2009

Siapa Suruh Tinggal Di Tanjung Piayu


Tujuan utama tulisan ini adalah harapan guna mewujudkan Batam menjadi Bandar yang Madani secara  menyeluruh. 

Tanjung Piayu adalah nama salah satu kelurahan di Kecamatan Sei Beduk. Nama tersebut  sebenarnya  adalah nama kawasan pantai di sebelah tenggara pulau Batam yg yang lebih dikenal sebagai Piayu Laut. Namun penduduk Batam lebih mengenal nama Tanjung Piayu daripada kecamatan Sei Beduk. 

Anehnya, orang banyak yang tidak tahu keberadaan kelurahan Tanjung Piayu. Hal ini disebabkan karena lokasi kantor lurahnya ada di komplek Kavling Sei Pancur. Tidak heran jika ada yang menyebutnya sebagai kelurahan Sei Pancur. Nama Tanjung Piayu lebih cenderung  dipakai untuk mewakili seluruh wilayah Sei Beduk. Bingung kan? Saya juga bingung. Makanya saya pakai istilah Tanjung Piayu saja (bukan Sei Beduk).

Gambaran kota Batam saat ini : Pusat perbelanjaan/mall, tempat wisata, pom bensin dan sarana umum lainnya sangat pesat pembangunannya di semua sudut Kota Batam (baca : selain Tanjung Piayu). Namun, tidaklah aneh lagi bagi warga Batam jika terjadi hal - hal berikut ini di Tanjung Piayu :

1. Banjir (Meskipun hanya hujan lebat sebentar)
   
Hal ini disebabkan karena sistem drainase di sepanjang jalan Tj. Piayu tidak memadai. Sebenarnya itu masa lalu. Sekarang banjir sudah tidak ada lagi karena parit besar sudah dibangun di sebelah kanan jalan antara Bidadari - Sungai Daun. Tapi Piayu tetap saja disebut sebagai pelanggan banjir.
     
2. Jalanan Rusak Parah
   
<sumber foto>Terakhir diperbaiki (total, sepanjang Muka Kuning Tanjung Piayu) sekitar akhir tahun 2003. Baru sekitar akhir tahun 2008 ada tanda - tanda perbaikan lagi. namun kenyataanya  hanya sepanjang Muka Kuning sampai Bukit Sentosa saja yang diperbaiki. Selebihnya sampai Tanjung Piayu tidak ada perhatian sama sekali dari pihak terkait. Sampai sekarang...  Jangka waktu 2003 sampai 2008 sebenarnya belum terlalu lama, baru mendekati masa 5 tahun. Tapi kenapa jalan tersebut kondisinya demikian parah?
  
Jalan Tanjung Piayu - Muka Kuning tidak  seluruhnya dilengkapi dengan parit di kedua sisi jalan, sehingga air hujan yang tergenang di tengah jalan/aspal tidak segera kering. Yang lebih utama penyebaba kerusakan jalan adalah tidak adanya perawatan berkala ataupun perbaikan terhadap kerusakan kecil sebelum menjadi lebih parah.

Saya bandingkan dengan jalan utama di kota kelahiran saya. Setelah lebih dari 5 tahun saya tinggalkan, kondisi jalan di sana masih bisa dilalui dengan baik, meskipun banyak sekali tambalan di sana sini. "Memang sih tidak rata dan kurang nyaman untuk dilewati, tapi sebutan mobil di sana masih tetap mobil on-road".   Sementara, pengendara mobil/motor di jalanan piayu sangat sangat cocok disebut off-roader. Mereka berpengalaman sekali melewati jalur penuh rintangan; genangan air, lumpur, batu - batu terjal dll.

Melalui blog ini saya menyampaikan terima kasih yang sebesar - besarnya kepada semua pihak yang telah berusaha memperbaiki jalan di Tanjung Piayu secara swadaya, dengan alat seadanya. Ada sopir taxi, pengangguran, dan (maaf) preman - preman. Biasa mereka terdiri dari tiga sampai empat orang dimana salah satunya bertugas memungut sumbangan dari kendaran yang lewat dan lainnya bekerja menambal jalan - jalan yang berlubang, meskipun kelihatan tidak serius/baru kerja jika ada kendaraan lewat.

Awalnya saya sangat membenci ulah mereka, selain mengganggu lalu lintas, tidak jarang mereka ngomel - ngomel jika ada pengendara yang tidak melemparkan uang seribuan. Tapi saya pikir, mereka jauh lebih memperhatikan kepentingan masyarakat daripada pejabat - pejabat yang digaji (baca : dengan uang rakyat) guna memperhatikan masalah rakyat.

Ok, pihak terkait boleh beralasan "menunggu pembangunan parit selesai". Kan bisa asal tambal dulu Pak/Bu ... diratakan dulu... yang penting lubang itu tidak semakin menganga... kami perlu jalan yang pantas untuk dilalui.  3 tahun lebih kami sengsara begini. Kami bukan kerbau, bukan sapi yang harus melewati kubangan tiap hari. Kendaraan kami bayar pajak tiap tahun.
  
Jika Sepeda Motor di Tanjung Piayu jumlahnya 10.000 (saya yakin lebih). Pajak yang terkumpul pertahunnya dari warga Tanjung Piayu adalah sekitar Rp 1,5 Milyar . Itu baru Motor belum kendaraan  lain.  Kemana larinya angka tersebut?

3. Susah Beli BBM  (tidak ada SPBU di Tanjung Piayu)

Di wilayah Batu Aji, sekarang ini (setahu saya) ada 4 titik SPBU. Bahkan ada yang lokasinya nyaris berhadap - hadapan (di Tembesi). Bagaimana dengan Piayu? = 0.
To the point saja, di KM 7 Jl. S. Parman Tanjung Piayu, tepatnya di bawah tower Telkomsel/operator lainnya, sebelum tahun 2003 (-/+) telah terpasang papan informasi yang isinya "Di sini akan segera di Bangun SPBU".

Sampai dengan hari ini belum ada realisasi sama sekali dari pihak terkait mengenai pembangunan SPBU tsb. Memang benar, harus ada investor/pengusaha yang menjalankan SPBU tersebut. Jika kondisi Tanjung Piayu  tetap seperti sekarang (termasuk jalan raya dan fasilitas umum lainnya), jangankan investor penduduk yang ada pun lebih memilih pindah ke tempat lain. Terus terang,  masalah SPBU ini sering menjadi bahan ejekan kepada masyarakat Tanjung Piayu.

Mohon kepada pihak terkait untuk segera mencabut Papan Informasi tersebut atau meralatnya menjadi : "Pembangunan SPBU di tempat ini tidak jadi dilaksanakan". Daripada membuat malu warga Tanjung Piayu.

***

Sebenarnya masih ada beberapa hal yang ingin saya utarakan, seperti fasilitas kesehatan, transportasi, dll. Tapi untuk apa saya capek - capek menulis? Mending kalau tuntutan saya ini dibaca oleh pihak terkait.

"Siapa Suruh Tinggal di Tanjung Piayu?" Akhirnya pertanyaan inilah yang paling cocok untuk warga Tanjung Piayu.
Terima kasih telah berkunjung.
Info:
Daftar Satellite dan Channel bisa di lihat disini
Update harga Receiver dan lainnya bisa dicek disini
Terkait...



On Facebook



6 komentar:

eshabe mengatakan...

Boz,

Di wilayah batu aji tuh ada lima SPBU. dekat simpang basecamp, simpang temiang, samping temiang, dan dua di tembesi.

Alhamdulillah, dah ga banjir lagi...

Mufid mengatakan...

Eshabe, tks atas koreksinya.. lupa kalo deket temiang ada dua SPBU.

5 : 0 ???

Anonim mengatakan...

he..he.., iya kale.., sapa yang nyuruh ?
saya juga Bloger Piayu, lam kenal

Mufid mengatakan...

Halo Anonim?

Senasib kita...

heski_btm mengatakan...

ass wrwb, salam kenal om. hari ini sy dan kawan2 taklim ada acara baksos di piayu laut. dibanding th 2007 sy kesana dulu..jalanan aspal udah panjang ya...piayu laut emang indah..tapi hutan udah mulai gundul...ttg plang SPBU itu..emang jadi bahan joke kita waktu itu, perasaan dari dulu ada ..tp realisasi..? jangan di cabut om...ditambah tulisannya..disini akan segera dibangun SPBU, kalo sempat...!!!
hidup om mufid..hidup warga piayu...
salam....

Mufid mengatakan...

Wa'alaikum salam,

Makasih Heski atas dukungannya...

Sekarang udah lumayan, jalanan udah mulai lurus, he he...